Praktik Thaharah atau Bersuci Nabi Muhammad SAW

Praktik Thaharah atau Bersuci Nabi Muhammad SAW

Praktik Thaharah atau Bersuci Nabi Muhammad SAW – Bagi umat Islam, mungkin sering mendengar kata atau istilah Thaharah, atau bersuci. Bersuci ini sangat penting, karena menjadi syarat syah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.  Bersuci juga, sangat bermanfaat bagi kesehatan kita, dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari

Praktik Thaharah atau Bersuci Nabi Muhammad SAW

Pengertian Thaharah atau Bersuci

Thaharah menurut etimologi (bahasa) artinya ‘bersuci’, sedangkan thaharah menurut terminologi (istilah syara’) artinya ‘suci dari hadats dan najis (kotoran yang bisa dihilangkan dengan wudu, atau mandi, atau tayamum)’.

  • “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu, dan (basuh) kedua kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu agar kamu bersyukur.”(QS Al-Ma’idah, 5: 6)

B. Tujuan dan Kedudukan Thaharah

Tujuan dari thaharah adalah menyucikan diri dari hadats besar maupun hadats kecil.

Hukum thaharah adalah sebagai syarat sahnya ibadah.

 

Bentuk-Bentuk Thaharah

  1. Wudu

Wudu adalah membasuh bagian-bagian tertentu dari anggota badan dengan air dengan tata cara yang telah ditentukan secara syar’i untuk membersihkan diri dari hadats kecil, seperti buang air kecil, buang air besar, keluar angin dari dubur (kentut), dan lain-lain.

Wudu - Praktik Thaharah atau Bersuci Nabi Muhammad SAW
Wudu – Praktik Thaharah atau Bersuci Nabi Muhammad SAW

Wudu hukumnya wajib bagi seorang muslim yang akan melakukan ibadah shalat dan thawaf, sebagaimana firman Allah Swt. yang artinya,

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu, dan (basuh) kedua kakimu sampai dengan kedua mata kaki ….” (QS Al-Ma’idah, 5: 6)

Wudu menjadi bagian penting dalam Praktik Thaharah atau Bersuci Nabi Muhammad SAW

A. Tata Cara Berwudu

  • Apabila seorang muslim mau berwudu, maka hendaknya dia berniat di dalam hatinya kemudian mem- baca basmalah sebab Rasulullah bersabda,

Dari Abu Hurairah r.a. dia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidak sah shalat orang yang tidak berwudu dan tidak sah wudu orang yang tidak menyebut nama Allah Ta’ala padanya.’” (HR Abu Dawud dan Tirmizi)

Akan tetapi, apabila dia lupa, maka tidak apa-apa.

  • Kemudian, mencuci kedua telapak tangan tiga kali sebelum berwudu kecuali jika setelah bangun tidur. Wajib mencucinya tiga kali sebelum berwudu sebab boleh jadi, kedua tangannya telah menyentuh kotoran di waktu tidurnya, sedangkan dia tidak menyadarinya. Rasulullah bersabda yang artinya,

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda,

“Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka janganlah dia mencelupkan tangannya ke dalam bejana hingga dia membasuhnya tiga kali karena dia tidak mengetahui di mana tangan itu berada (ketika dia tidur).” (HR Muslim)

  • Kemudian, berkumur-kumur (memasukkan air ke mulut lalu memutarnya di dalam dan kemudian membuang- nya). Lebih sempurna lagi jika bersiwak (menggosok gigi).

Dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda,

“Sekiranya tidak memberatkan umatku atau manusia, niscaya aku akan perintahkan kepada mereka untuk bersiwak (menggosok gigi) pada setiap kali hendak shalat.” (HR Bukhari)

  • Kemudian menghirup air dengan hidung (mengisap air dengan hidung) lalu mengeluarkannya. Disunah- kan ketika menghirup air dilakukan dengan kuat, kecuali jika dalam keadaan berpuasa, maka dia tidak mengeraskannya karena dikhawatirkan air masuk ke dalam tenggorokan. Rasulullah bersabda,

Dari Laqit bin Sabrah, dia berkata, “Wahai Rasulullah, beri tahukanlah kepadaku tentang cara berwudu. Beliau saw. menjawab, “Sempurnakanlah wudu, sela-selalah di  antara jari-jemarimu dan hirup air dengan kuat ketika ber-istinsyaq kecuali jika kamu sedang berpuasa.” (HR Abu Dawud)

  • Lalu, mencuci muka. Batas muka adalah dari batas tum- buhnya rambut kepala bagian atas sampai dagu dan mulai dari batas telinga kanan hingga telinga kiri dan rambut tipis yang ada pada muka wajib dicuci hingga kulit dasarnya. Tetapi, jika tebal seperti jambang atau janggut, maka wajib mencuci bagian atasnya saja. Namun, disunahkan menyela-nyela rambut yang tebal tersebut.

Dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah saw. apabila berwudu beliau mengambil air dengan telapak tangannya, lalu memasukkannya ke bawah dagunya, lalu beliau menyela-nyela di antara janggutnya dan bersabda, “Beginilah Rabb-ku ‘Azza wa Jalla memerintahkan aku.” (HR Abu Dawud)

    • Kemudian, mencuci kedua tangan sampai siku.
    • Kemudian, mengusap kepala satu kali dimulai dari bagian depan kepala lalu diusapkan ke belakang kepala lalu mengembalikannya ke depan kepala.
    • Kemudian, mengusap kedua telinga satu kali (boleh mengusap kedua telinga dengan air yang tersisa pada tangan tanpa mengambil lagi air wudunya).
    • Lalu, mencuci kedua kaki sampai kedua mata kaki (ben- jolan yang ada di sebelah bawah betis).
    • Mengenai anggota wudu ini Allah berfirman yang artinya,

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu, dan (basuh) kedua kakimu sampai dengan kedua mata kaki ….” (QS Al-Ma’idah, 5: 6)

Catatan

  • Disunahkan menyela-nyela jari-jari tangan dan kaki disaat mencucinya, karena Rasulullah bersabda,

Dari Laqit bin Sabrah, dia berkata, “Wahai Rasulullah, beri tahukanlah kepadaku tentang cara berwudu.” Beliau menjawab, “Sempurnakanlah wudu, sela-selalah di antara jari-jemarimu ….” (HR Abu Dawud)

      • Disunahkan mendahulukan membasuh anggota wudu yang kanan dari yang kiri.
      • Disunahkan juga membasuh setiap anggota wudu se- banyak 3 kali.
      • Ketika berwudu, wajib mencuci anggota-anggota wudunya secara berurutan, tidak menunda pencucian salah satu anggota wudu hingga anggota wudu yang sebelumnya kering.
      • Boleh mengelap anggota-anggota wudu seusai berwudu.Setelah selesai berwudu, mengucapkan doa setelah wudu 

B. Hal-Hal yang Membatalkan Wudu

      • Keluar sesuatu dari dua jalan (kubul dan dubur) atau salah satu dari keduanya, baik berupa kotoran, air kencing, angin atau yang lainnya.
      • Hilangnya akal, baik gila, pingsan, atau pun mabuk.
      • Bersentuhan kulit laki-laki dengan kulit perempuan yang bukan mahram (menurut sebagian mazhabfiqih).
      • Menyentuh kemaluan atau pintu dubur dengan telapak tangan.
      • Tidur kecuali apabila tidurnya dengan duduk dan tidak
      • berubah tempat duduknya.

2. Mandi

A. Pengertian dan Definisi Mandi

Mandi adalah menyiramkan air ke seluruh tubuh untuk menyucikan diri dari hadats besar, seperti junub dan haid.

Dasarnya adalah firman Allah Ta’ala,
“… dan jika kamu junub maka mandilah ….” (QS Al- Ma’idah, 5: 6)

Dan firman Allah, “… dan jangan pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub kecuali sekadar melewati untuk jalan saja, sebelum kamu mandi (mandi junub) ….” (QS An-Nisa’, 4: 43)

Mandi terbagi dua, yaitu mandi wajib dan sunah. Mandi yang diwajibkan adalah mandi yang dilakukan setelah bersetubuh, baik keluar mani atau pun tidak, baik laki-laki maupun perempuan, masuknya (tenggelam) kepala zakar (ke vagina) secara sempurna atau pun tidak, lama atau sebentar, berdasarkan hadits yang artinya,

Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi saw., beliau bersabda,

“Jika seseorang duduk di antara empat anggota badannya lalu bersungguh-sungguh kepadanya maka wajib baginya mandi.” (HR Muttafaqun Alaih).

Begitu juga, wajib mandi disebabkan seseorang mimpi setubuh lalu mendapati bekas air mani, berdasarkan hadits yang artinya,

Dari Ummu Salamah, Ummul Mukminin berkata, “Ummu Sulaim, istri Abu Talhah, datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dengan kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi bila bermimpi?’ Maka Rasulullah saw. men- jawab, ‘Ya jika dia melihat air.’” (HR Muttafaqun Alaih)

Adapun mandi yang disunahkan (dianjurkan), di antaranya,

  • Mandi hari Jumat: mandi untuk shalat jumat ini hu- kumnya sunah muakad (ditekankan) kecuali bagi orang yang mempunyai kelainan bau badan maka wajib mandi.

Dari Abu Sa’id Al Khudri, dari Nabi saw., beliau bersabda,

“Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi orang yang sudah bermimpi (balig).” (HR Muttafaqun Alaih)

      • Mandi Hari Raya Idul fitri dan Hari Raya Idul adha.

Dari Al Faqih bin Saad, dia adalah salah seorang sahabat, “Sesungguhnya, Rasulullah saw. mandi pada hari Jumat, hari Arafah, Idulfitri, dan Iduladha.” (HR Ahmad)

      • Mandi orang gila apabila dia telah sembuh dari gilanya karena ada kemungkinan dia keluar mani.
      • Mandi tatkala hendak ihram haji atau umrah.

Dari Zaid bin Sabit, beliau melihat Nabi saw. ihram dengan melepas pakaian beliau yang dijahit lalu mandi. Abu ‘Isa berkata, “Ini merupakan hadits hasan garib. Sebagian ulama menyunahkan mandi pada waktu ihram. Ini juga pendapat Syafi’i.” (HR Tirmizi)

      • Mandi sehabis memandikan mayat. Sabda Rasulullah saw. yang artinya,

Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa memandikan mayit, hendak- lah dia mandi.’” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

  • Mandi seorang kafir setelah memeluk agama Islam

Sebab ketika beberapa orang sahabat masuk Islam, mereka disuruh Nabi untuk mandi. Perintah ini menjadi sunah hukumnya, bukan wajib karena ada karinah (tanda) yang menunjukkan bukan wajib, yaitu beberapa orang sahabat ketika mereka masuk Islam tidak disuruh mandi oleh Nabi. Dalam Mempelajari Praktik Thaharah atau Bersuci Nabi Muhammad SAW kita harus langsung mempraktikkannya.

B. Tata Cara Mandi Besar

Adapun tata-tata cara mandi ada dua macam:

      • Tata cara yang mencukupi dan diterima (sah) ialah mencuci kepala dan seluruh badannya.
      • Adapun tata cara yang sempurna adalah sesuai yang tercantum dalam hadits yang artinya,

Dari Ibnu ‘Abbas, dari Maimunah, dia berkata, “Aku menutupi Nabi saw. saat beliau sedang mandi junub. Beliau mencuci kedua tangannya, lalu dengan tangan ka- nannya beliau menuangkan air pada tangan kirinya, lalu mencuci kemaluannya dan apa yang terkena (mani). Beliau kemudian menggosokkan tangannya ke dinding atau tanah kemudian berwudu, sebagaimana wudu untuk shalat kecuali kedua kakinya. Kemudian, beliau mengguyurkan air ke seluruh badannya kemudian menyudahi dengan mencuci kedua kakinya.” (HR Bukhari)

Tidaklah wajib bagi wanita untuk menguraikan kepang rambutnya saat mandi, berdasarkan hadits yang artinya,

Dari Ummu Salamah, dia berkata, “Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku lalu aku membukanya untuk mandi junub.’ Beliau saw. bersabda, ‘Jangan (kamu buka). Cu- kuplah kamu menumpahkan air pada kepalamu tiga kali kemudian kamu mencurahkan air padamu maka kamu telah suci.’” (HR Muslim)

3. Tayamum

A. Definisi Tayamum

Tayamum secara etimologi (bahasa) diartikan sebagai al qasdu yang berarti ‘bermaksud’, sedangkan secara terminologi (istilah syariat) adalah ‘mengusap wajah dan kedua tangan dengan menggunakan sa’id (tanah atau debu) yang bersih’ sebagai pengganti wudu atau mandi bagi orang yang uzur syar’i, seperti tidak ada air atau sedang sakit yang tidak boleh menggunakan air.

Praktik Thaharah atau Bersuci Nabi Muhammad SAW
Praktik Thaharah atau Bersuci Nabi Muhammad SAW

B. Dalil Tayamum

“… dan jika kamu sakit, atau dalam perjalanan, atau kembali dari tempat buang air (kakus), atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu Bumi yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu ….” (QS Al-Ma’idah, 5: 6)

C. Sebab-Sebab Diperbolehkannya Tayamum

      • Tidak ada air dan telah berusaha mencari air, tapi tidak ditemukan.
      • Air tidak mencukupi karena jumlahnya sedikit, misal- nya hanya cukup untuk minum atau masak.
      • Air berada di tempat yang jauh yang dapat menyebab- kan keluarnya waktu shalat.
      • Terdapat bahaya yang menghalangi sampainya sese- orang ke sumber air.
      • Sakit yang tidak boleh terkena air.

D. Syarat Sah Tayamum

Berikut Syarat Syah Tayamum, dalam Praktik Thaharah atau Bersuci Nabi Muhammad SAW

      • Telah masuk waktu shalat.
      • Memakai tanah/debu yang suci dari najis dan layak digunakan tayamum.
      • Memenuhi alasan atau sebab dibolehkannya melakukan tayamum.
      • Sudah berusaha mencari air, namun tidak ditemukan.
      • Tidak haid maupun nifas bagi wanita.
      • Menghilangkan najis yang yang melekat pada tubuh.

E. Tata Cara Tayamum

  • Praktik Thaharah atau Bersuci Nabi Muhammad SAW pembahasan mengenai Tayamum.
  • Niat, berdasarkan hadits yang artinya,

Dari Umar bin Al Khatab, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Semua perbuatan bergantung niatnya dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (bergantung) apa yang diniatkan.’” (HR Bukhari)

Membaca basmalah, kemudian memukulkan telapak tangannya ke tanah, lalu mengusap muka, kemudian menyapukan tangan kirinya ke telapak tangan kanan, serta menyapu kedua punggung telapak tangannya, sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw.

Berdasarkan hadits Amar bin Yasir yang isinya, “… kemudian Rasulullah saw. memukulkan tangannya ke bumi satu kali kemudian menyapukan tangan kiri ke telapak tangan kanan dan kedua punggung kedua tangannya serta wajahnya.” (HR Bukhari)

4. Hukum Air

A. Macam-Macam Air

      1. Air mutlaq, seperti air hujan, air sungai, air laut, hu- kumnya suci dan menyucikan
      2. Air musta’mal, yaitu air yang lepas dari anggota tubuh orang yang sedang berwudu atau mandi dan tidak mengenai benda najis. Hukumnya suci, seperti yang disepakati para ulama dan tidak menyucikan menurut kebanyakan ulama.
      3. Air yang bercampur benda suci, seperti sabun atau cuka selama percampuran itu sedikit, tidak mengubah nama air maka hukumnya masih suci menyucikan menurut Mazhab Hanafi dan tidak menyucikan menurut Imam Syafi’i dan Malik.
      4. Air yang terkena najis; jika mengubah rasa, warna, atau aromanya maka hukumnya najis, tidak boleh dipakai bersuci menurut ijmak. Sedangkan jika tidak meng- ubah salah satu sifatnya, maka menyucikan menurut Imam Malik, baik air itu banyak atau sedikit; tidak menyucikan menurut Mazhab Hanafi; menyucikan menurut Mazhab Syafi’i jika telah mencapai dua kulah yang diperkirakan sebanyak volume tempat yang berukuran 60 cm3.
  1. Su’r (sisa), yaitu air yang tersisa di tempat minum setelah diminum.
  2. Sisa anak Adam (manusia) hukumnya suci meskipun dia seorang kafir, junub, atau haid.
      • Sisa kucing dan hewan yang halal dagingnya hukumnya suci.
      • Sisa keledai dan binatang buas, juga burung hukumnya suci menurut Mazhab Hanafi.
      • Sisa anjing dan babi hukumnya najis menurut seluruh ulama.

5. Najis dan Cara Membersihkannya

1. Definisi Najis

Najis adalah kotoran yang wajib dibersihkan oleh setiap muslim dengan mencuci benda yang terkena. Praktik Thaharah atau Bersuci Nabi Muhammad SAW, kita harus mengetahui macam-macam najis.

Macam-macam Najis:

      1. Air kencing, dan tinja manusia, dan hewan yang tidak halal dagingnya, telah disepakati para ulama. Sedangkan kotoran hewan yang halal dimakan dagingnya maka hukumnya najis menurut Mazhab Hanafi dan Syafi’i; dan suci menurut Mazhab Maliki dan Hanbali.
      2. Mazi, yaitu air putih lengket yang keluar ketika sese- orang sedang berpikir tentang seks dan sejenisnya.
      3. Wadi, yaitu air putih yang keluar setelah buang air kecil.
      4. Darah yang mengalir, sedangkan yang sedikit di-ma’fu (dimaafkan). Menurut Mazhab Syafi’i, darah nyamuk, kutu, dan sejenisnya di-ma’fu jika secara umum diang- gap sedikit.
        1. Anjing dan babi.
        2. Bangkai kecuali mayat manusia, ikan, dan belalang,dan hewan yang tidak berdarah mengalir.

B. Menghilangkan Najis

Dalam Praktik Thaharah atau Bersuci Nabi Muhammad SAW, cara menghilangkan najis adalah sebagai berikut:

      1. Jika ada najis yang mengenai badan, pakaian manusia, atau lainnya, maka wajib dibersihkan. Jika tidak terlihat, maka wajib dibersihkan tempatnya sehingga dugaan kuat najis telah dibersihkan. Sedangkan pembersihan bejana yang pernah dijilat anjing maka wajib dibasuh dengan tujuh kali dan salah satunya dengan debu. (Walaga: menjulurkan lidah ke air atau benda cair lainnya).
      2. Sedangkan sentuhan anjing dengan fisik manusia maka tidak membutuhkan pembersihan melebihi cara pembersihan yang biasa. Sedangkan najis sedikit yang tidak memungkinkan dihindari maka hukumnya dima- afkan. Demikianlah hukum sedikit darah dan muntahan. Diringankan pula hukum air kencing bayi yang belum makan makanan maka hanya cukup dengan diperciki air.

Anjing najis semua menurut Jumhurul Fuqaha karena hadits, “Jika anjing menjilat wadah salah seorang di antaramu maka tumpahkanlah dan basuhlah dengan tujuh kali basuhan” (HR Muslim). Mereka mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan najis air liurnya dan air liur adalah bagian dari mulutnya maka mulutnya najis juga. Sedangkan mulut adalah organ yang paling mulia maka selebihnya lebih layak disebut najis.

Menurut Imam Malik, anjing itu suci semua termasuk air liurnya karena firamn Allah, “… maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu …” (QS Al-Ma’idah, 5: 4); dan hewan buruan itu pasti terjilat liur anjing dan kita tidak disuruh mencucinya. Jika anjing menjilat air, maka tidak membuatnya najis, boleh diminum, berwudu dengannya. Mencuci tempat bekas dijilat anjing adalah ta’abbudi (ibadah).

Menurut Mazhab Hanafi, air liur anjing itu najis, sedangkan organ tubuh lainnya suci. Sedangkan babi hukumnya najis menurut Jumhurul Fuqaha, termasuk Mazhab Hanafi. Tidak seorang pun yang berbeda pendapat dalam hal ini kecuali sebagian pengikut Maliki. Jumhur berdalil bahwa babi lebih menjijikkan daripada anjing dan Allah berfirman, “… sesungguhnya ia najis ….”
Ini menurut jumhurul ulama, sedangkan menurut Maliki dan Hanafi maka tidak perlu pembersihan karena menurut mereka fisik anjing itu tidak najis.

6. Adab Buang Hajat

Adab Buang Hajat - Praktik Thaharah atau Bersuci Nabi Muhammad SAW
Adab Buang Hajat – Praktik Thaharah atau Bersuci Nabi Muhammad SAW

Bagian dalam Praktik Thaharah atau Bersuci Nabi Muhammad SAW, adalah mengetahui Adab Buang Hajat. Jika seorang muslim hendak buang hajat, maka harus memperhatikan hal-hal berikut ini.

  1. Tidak membawa apa pun yang ada nama Allah kecuali jika takut hilang.
  2. Membaca basmalah, istiazah ketika masuk, dan tidak berbicara ketika ada di dalamnya.
  3. Tidak menghadap kiblat atau membelakanginya. Hal ini harus menjadi perhatian setiap muslim jika mem- bangun kamar mandi.
  4. Jika sedang berada di perjalanan, maka tidak boleh melakukannya di jalan atau di bawah teduhan, harus menjauhi liang hewan.
  5. Tidak kencing berdiri kecuali jika aman dari percik- an (seperti kencing di tempat kencing yang tinggi; urinoir).
  6. Wajib membersihkan najis yang ada di organ pembuangan dengan air atau dengan benda keras lainnya (asal bukan benda yang dihormati), tidak dengan tangan kanan. Membersihkan tangan dengan air dan sabun jika ada.
  7. Mendahulukan kaki kiri ketika masuk dengan membaca doa masuk WC 
  8. Keluar dengan kaki kanan sambil membaca doa keluar WC 

Semoga artikel Praktik Thaharah atau Bersuci Nabi Muhammad SAW ini bisa bermanfaat bagi Anda. ^_^

Baca juga:

Manfaat dan Waktu Tepat Berjemur Sinar Matahari Pagi Lawan Corona

7 Alasan SystemEver Menjadi Software Cloud ERP Indonesia Terbaik

Makna dan Arti Asmaul Husna Al Malik Allah Zat Maharaja

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *