Riza Zacharias: Covid 19, US $ dan Buah Simalakama

Riza Zacharias: Covid 19, US $ dan Buah Simalakama – Kondisi wabah virus Covid 19 makin merajalela di Indonesia, tak terkecuali menyerang aspek ekonomi. Banyak perusahaan yang mulai ketar ketir dengan kondisi sekarang. Mungkin, Anda yang membaca tulisan ini juga merasakan hal serupa.

Berikut tulisan menarik dari Bapak Riza Zacharias (Chairman Syaamil Group), yang saya salin dari akun Facebook beliau.

Semoga tulisan ini mencerahkan dan memberikan info dari sudut langsung pengusaha besar.

Covid 19, US $ dan Buah Simalakama

oleh Riza Zacharias

A’udzubillahi minasysyaithanirrajim
Bismillahirrahmanirrahim

Saya amat memahami, betapa bingungnya menjadi pemerintah di situasi seperti saat ini.
Sangat paham juga mengapa TIDAK SEMUA INFORMASI (berdasarkan keterangan pak Ahmad Yuriansah saat di wawancara oleh Deddy Corbuzier) mengenai jumlah pasien positif covid 19 diumumkan.

Pro kontra sikap dan tuntutan apa yang “seharusnya” dilakukan, menjadi bahasan (nyaris) di semua grup atau komunitas, utamanya yang terjangkau informasi dan media sosial. Utamanya lagi, di kota-kota besar.

Berbagai informasi penunjang pun dalil-dalil agama, dikumpulkan oleh pihak yang pro maupun yang kontra.

Bijaklah kita dalam mensikapi, agar ikhtiar titik temu bisa di diskusikan dengan kepala dingin.

Begini…

~~~~~~~~~

Satu

Saya beberapa kali berkesempatan masuk blusukan ke gang-gang sempit di kota besar (di tahun lalu).
Saya yakin dimanapun tipikal.
Apa yang saya lihat sendiri, membuat saya memahami, mengapa himbauan social distancing bagi rakyat pada umumnya tidak/kurang berhasil?

Iya, benar.
Rumah mereka amat sangat kecil.
Berdempetan.
Kadang bahkan satu rumah berisikan 2 hingga 3 keluarga. Berdesakan. Berimpitan.

😭😭😭

Bagaimana mereka akan “patuh” untuk berdiam di dalam rumah selama berhari-hari sementara “ruang bergerak” saja “nyaris” tak ada??

Jangan samakan situasi rakyat kebanyakan dengan teman-teman yang bisa upload kegiatan di dalam rumah dengan segala keleluasaan dan fasilitas bermainnya, hingga bisa berbagi di medsos tentang bagaimana “cara menikmati “ kebersamaan keluarga dengan cerah ceria..

Pahamilah ini…

Kasihan saudara-saudara kita yang “tak ada pilihan” selain tetap beraktivitas keluar rumah..
Demi sesuap nasi…

Sayangi mereka dan doakan dengan doa terbaik bagi segera berlalunya wabah covid 19 ini dari bumi Indonesia tercinta kita..

~~~~~~~~~

Dua

Saya juga (berusaha) paham, mengapa skenario “PANIK dan ANSIPATIF” dalam menghadapi cofid 19, tidak dilakukan pemerintah sejak awal.
Maaf maaf saya sampaikan ini.
Indonesia saat ini sedang amat rentan dan tidak memiliki “ketahanan” yang memadai sebagai sebuah bangsa berdaulat, bahkan jika tak ada kejadian luarbiasa seperti wabah cofid 19 ini sekalipun.

Saya tidak hendak bahas politik.
Bukan ranahnya, pun juga tidak pada tempatnya bicara hal ini.

Indikator nya sederhana saja, kita bisa cermati pada saat “negara” terancam. Lihat, bagaimana nilai rupiah terhadap dollar (US)?

Jika terimbasnya besar dan cepat, menunjukkan bahwa pertahanan dan ketahanan negara dari “ancaman” amatlah lemah.
Baru beberapa hari ini peningkatan tajam penderita positif covid 19 diumumkan, dollar sudah mencapai nyaris 17.000 an per hari ini (Senin, 23 Maret 2020).

Ibarat main bola, rupiah vs dollar ini kayak team Indonesia main ama Liverpool, baru menit ke-24, posisi sudah 0-14 (Indonesia tak mampu menangkis serangan).
Padahal permainan belum usai..

Maka, jika negara “terlalu apa adanya jujur” pada rakyat, mungkin karena khawatir respon rakyat malah jadi “beban tambahan” yang terlalu berat bagi negara.
Terutama sektor ekonomi.

Diem-diem saja sudah kewalahan, apalagi terang-terangan.

Gini hitungan sederhananya:

Misal nih, diumumkan negara bahwa seluruh rakyat lockdown tinggal di rumah dan tidak boleh beraktivitas diluar. Atau sepulau Jawa misalnya.
Lantas, polisi dan tentara dikerahkan “menjaga” ketat program ini dilaksanakan.

Apa yang (kira-kira) akan terjadi?

Anggap ya, semua sepakat nurut, diem di rumah, masak yang ada, dst.
Berapa juta atau puluh juta saudara kita (pedagang kecil, gojek, warteg, kuli harian, dll dkk) yang penghasilannya harian atau pun bulanan akan ikut lockdown juga?

Berapa juta umkm yang penghasilannya masih pas-pasan sebagai pahlawan ekonomi kerakyatan dengan semua beban keluarga serta karyawannya yang akan ikut “mati” or “sekarat”?

Mungkin pembaca status ini masih “beruntung” punya tabungan sedikit ataupun banyak.
Tapi jangan kira mayoritas saudara-saudara kita yang lain seberuntung kita…

😭😭

“Kan bisa di subsidi pemerintah?”

Pliiis….
Uang darimanaaa? Dari Hongkong??
😭😭

Jadi, nomer satu juga sulit ideal, nomer dua pun simalakama..
Serba salah.

Lanjutkan?

Riza Zacharias: Covid 19, US $ dan Buah Simalakama
Riza Zacharias: Covid 19, US $ dan Buah Simalakama

Oke, berikutnya.

Situasi lain.

~~~~~~~~~

Ketiga,
Tingkat Kesadaran Masyarakat

Ini juga problem tersendiri yang tidak sederhana.
Saat seruan pemimpin daerah untuk melakukan “pengamanan” antisipatif, responnya beragam banget.

Ini bab “kesadaran”.
Kualitas pendidikan yang rendah, mengantarkan pada sulitnya masyarakat umum, untuk mengerti sejauh apa bahaya yang mengancam mereka..

Sebab, ancaman harian yang mereka hadapi nyata, adalah bisa makan atau tidak hari ini/besok?
Bisa bayar kebutuhan rutin atau tidak…
Bisa bayar listrik atau tidak? dll

Otak dan konsentrasi mereka telah tersita untuk hal ini.
Maka, bahasa-bahasa ilmiah yang sampai lewat broadcast di medsos, sulit mereka cerna dengan baik.
Belum tentu pula mereka ‘melek’ medsos informasi / pendidikan…

Jangankan yang pendidikan bawah, pendidikan tinggi pun saat diskusi mengarah pada antisipasi masjid agar aman, perlu effort sangat keras untuk sekedar memahamkan bahwa yang perlu dilakukan adalah ikhtiar antisipasi.
Bukan menjauhkan muslimin dari masjid.

Riza Zacharias: Covid 19, US $ dan Buah Simalakama
Riza Zacharias: Covid 19, US $ dan Buah Simalakama

~~~~~~~~~

Terus….solusine opo??

Tetap, situasi seperti ini akan sangat-sangat efektif jika pemerintah yang mengambil alih komando dengan kuat.
Kepemimpinan saat krisis adalah ujian kepemimpinan yang sebenarnya.

Jika sedang “aman” mah biasa, nggak ada ujian berat akan kualitas pemimpin.

Meskipun bingung, meski simalakama, tetap pemerintah adalah tambatan harapan rakyat.
Wajar.
Itu terjadi di seluruh negara yang terkena wabah.
Perhatikan dan baca saja beritanya.
Semua bertindak.

“Eits Kang, Indonesia juga bertindak lho..”

Ya.
Siapa bilang tidak?
Saya juga baca dan ikuti beritanya, pemerintah kita sudah bergerak.
Namun masih bisa lebih kuat lagi.
Tambahin lebih baik lagi..

Setidaknya langkah awal ini, (saya yakin) pemerintah sudah siapkan plan A, B dan seterusnya.

Tambah,
dengan kewenangannya, pemerintah mampu “paksa” gunakan seluruh fasilitas komunikasi (tentunya waktu tertentu) untuk menyampaikan arahan dll pada rakyat;

– stasiun televisi dan radio nasional/
swasta, untuk membuat himbauan,
arahan dan seterusnya
– surat kabar offline dan online
– provider telekomunikasi, melalui SMS
blast ke seluruh pemilik handphone..
– melakukan konferensi (tele/daring)
dengan seluruh gubernur dan pimpinan
daerah…dst
– infrastruktur pemerintahan sampai
tingkat RT/RW…

Minimal informasi.
Minimal arahan langkah awal meminimalisasi dampak.

Syukur jika tiba-tiba, kemampuan pemerintah mem-back up ekonomi kerakyatan, umkm dll yang terdampak, juga dilakukan (meski baru harapan), misal:
– memberi kebijakan diskon atau bahkan
gratis bagi rakyat & pengusaha
terdampak sementara waktu (listrik,
pajak dkk). Pajak dah ada, bisa tambah
lagi di aspek pajak yang lainnya lagi,
– men-support sementara penghasilan
semua yang terdampak.
– menyiapkan “ketahanan pangan” darurat
agar siap saling suplai mandiri
– memastikan harga-harga kebutuhan
pokok kesehatan dan pangan terkendali
– menyiapkan undang-undang darurat
penanggulangan bencana
– dll

Trus jika pemerintah belum mampu?

Kita jangan tinggal diam.

Siapkan diri agar bersiap berkontribusi.

Doa agar Allah beri kemampuan bisa berkontribusi, sedikit atau banyak..

Bersiap sejak sekarang.
Jangan cengeng.
Optimis, yakin pada Allah..
Cari jalan keluar.

Ikhtiar jangan jadi pasien atau menjadi carrier mem-pasien-kan orang lain.

Berhenti menyalahkan siapapun.
Ini sudah jadi pandemik.

Berhenti mempolitisasi.

Mau peduli mau tidak peduli, resiko terkena dampaknya tetap terbuka.

Doakan pemerintah kita memiliki kemampuan dan solusi.

Doakan kita semua kompak bahu-membahu semua unsurnya cari solusi.

Doakan bangsa ini segera terbebas dari wabah ini.

(Apalagi bagi mukmin, yang yakin bahwa balasan terbaik justru akan datang dari arah yang tidak di duga-duga, saat menyediakan hartanya untuk bantu sesama)..

Wallahu a’lam

Wal afwu,

Riza Zacharias

#SyaamilQuran
#BackToQuran
#BackToSirahNabiSAW

Semoga tulisan Riza Zacharias: Covid 19, US $ dan Buah Simalakama ini bermanfaat. Sumber tulisan asli, KLIK DISINI

==

Baca juga : 

Herd Immunity dan Konsekuensi Dalam Hadapi Covid 19 Corona

7 Alasan SystemEver Menjadi Software Cloud ERP Indonesia Terbaik

Systemever Software Cloud ERP Indonesia Terbaik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *