Rapid Test, Avigen, Chloroquin = HERD IMMUNITY kah yang dijalankan?

Rapid Test, Avigen, Chloroquin = HERD IMMUNITY kah yang dijalankan?

Rapid Test, Avigen, Chloroquin = HERD IMMUNITY kah yang dijalankan? – Tulisan lain mengenai pendapat tentang penanganan Covid 19 Corona di Indonesia, datang dari Tifauzia Tyassuma, seorang Dokter, Penulis, Peneliti. Tulisan yang di share oleh lebih dari 1.000 orang ini, diunggah pada 22 Maret 2020.

Seperti yang kita dengar, penanganan pandemi Covid 19 di berbagai negara, berbagai macam metode dan eksekuisinya. Bagaimana dengan di Indonesia?

Herd Immunity semakin ramai diperbincangkan, seperti tulisan sebelumnya dari Rendy Saputra yang berjudul Herd Immunity dan Konsekuensi.

Berikut dibawah ini, tulisan dari Tifauzia Tyassuma yang berjudul  

RAPID TEST, AVIGEN, CHLOROQUIN =
HERD IMMUNITY kah yang dijalankan?

Saya sedang bertanya, dan ini betul-betul bertanya,

RAPID TEST, AVIGEN, CHLOROQUIN =
HERD IMMUNITY kah yang dijalankan?

Saat ini Pemerintah, melalui Kepala BNPB mempertegas sikap tidak memberlakukan #lockdown.

Kemudian menganalisis hari demi hari dengan hati-hati langkah yang dilakukan Pemerintah.

Yang kemudian membuat saya bertanya, betul-betul bertanya,

Saat ini, saya membaca bahwa strategi yang sedang dijalankan Pemerintah adalah sbb:

1. Tidak memberlakukan #lockdown, hanya himbauan agar tidak keluar masuk Indonesia

2. Membeli RAPID TEST untuk Mempercepat penapisan ODP dan PDP

3. Membeli obat Avigen dan Choloroquin dalam jumlah besar

Apakah benar demikian?

Karena itu kemudian saya bertanya, betul-betul bertanya, dan bukan pernyataan,

Untuk langkah-langkah tersebut di atas, maka saya membaca bahwa ada langkah strategis yang dipikirkan oleh Pemerintah saat ini, dan mungkin langkah tersebut adalah masukan dari pihak-pihak non kesehatan, sehingga sangat mungkin saat ini diambil kebijakan untuk melakukan HERD IMMUNITY.

Benarkah demikian?

Saya sampaikan kepada semunya, terutama kepada Pemerimtah, untuk mempertimbangkan kembali, bila memang memutuskan untuk menyetujui HERD IMMUNITY.

HERD IMMUNITY adalah langkah cepat membangun imunitas bersama secara kolektif, dengan membiarkan masyarakat terinfeksi bersama. Dengan demikian akan ada yang terjadi yaitu

1. Banyak orang akan terinfeksi.
2. Sebagian yang terinfeksi akan meninggal
3. Sebagian yang terinfeksi akan sembuh sebagai carrier (pembawa)
4. Sebagian yang kontak tetapi tidak terinfeksi akan memiliki kekebalan.

Untuk diketahui, HERD IMMUNITY bisa efektif apabila karakter Virus dan prediksi evolusi/mutagenesisnya sudah bisa diletahui dengan pasti.

Masalahnya adalah, Virus SARS nCOV2 ini baru memulai perjalanan evolusinya. Tidak ada satupun ilmuwan di dunia ini yang mampu memastikan perjalanan mutasi Virus ini akan menjadi seperti apa.

Karena itu, HERD IMMUNITY menjadi langkah yang SPEKULATIF yang amat sangat berbahaya bagi seluruh rakyat.

Apalagi, rakyat Indonesia memiliki daya kekebalan dan status nutrisi yang rendah.
Sehingga apabila HERD IMMUNITY dilakukan, maka alih-alih terjadi Imunitas kolektif, tetapi yang terjadi adalah:

1. Banyak yang terinfeksi dan menjadi parah dengan cepat
2. Banyak rakyat yang meninggal, terutama kelompok usia rentan dan yang memiliki komorbid.
3. Fasiliitas Kesehatan yang pada dasarnya memiliki Ketahanan rendah, akan tumbang dengan cepat. Yang terkorbankan adalah DOKTER DAN TENAGA KESEHATAN lain.

Langkah untuk mengirimkan wakil mengambil obat dan APD dari China sama sekali tidak mengharukan, bahkan mengundang tanya.

Dalam situasi infeksius sekarang, obat dan APD seharusnya tidak perlu dijemput, melainkan cukup diterbangkan dengan kargo.

Karena itu apakah ada hal lain yang diantar maupun dijemput, atau dirundingkan, dalam muhibah ke Cina itu?

Sekali lagi saya sampaikan, senyampang belum terlambat, strategi #Lockdown teritorial dan wilayah masih harus DIPERTIMBANGKAN dan diputuskan dengan cepat oleh Pemerintah RI.

HERD IMMUNITY seperti langkah bumi hangus. Kasihan rakyat.

Kira-kira kalau saya membacanya adalah, rakyat yang terinfeksi nanti akan diberikan Avigen dan Cholorquin.

Benarkah demikian?

Padahal Avigen masih kontroversial dan baru terbukti bermanfaat (dalam skala terbatas) untuk gejala ringan dan sedang.

Padahal dengan Status Imunitas dan Status Nutrisi SEBAGIAN BESAR Rakyat Indonesia yang rendah, makan kemungkin orang terinfeksi hanya sampai status ringan sd sedang akan sangat kecil, karena terbukti saat ini, angka CASE FATALITY RATE mencapai 8,4%, lebih tinggi dari angka sembuh.

Artinya bahwa siapapun yang terinfeksi apalagi pada usia berisiko, akan melampaui fase ringan dan sedang, langsung menuju fase parah. Sehingga Avigen hanya akan seperti membuang garam di lautan.

Sedangkan Chloroquin yang dimaksudkan untuk membuat kondisi endoplasma menjadi toksik, beberapa negara yang telah melakukan pemberikan Chloroquin saat ini terlaporkan mengalami keracunan akut dan kerusakan liver dengan cepat. Alih-alih meracuni Virus, yang teracuni justru penderitanya.

Karena itu, HERD IMMUNITY yang tampaknya akan diterapkan di Indonesia, menjadi langkah yang berbahaya bagi rakyat Indonesia.

Semua yang saya tulis di atas adalah pertanyaan berbasis HIPOTESIS berdasarkan metasintesis terhadap apa saja strategi yang dilakukan banyak negara sebelumnya.

Karena itu maka

Usul saya tetap:

#Lockdown teritorial dan wilayah.
Beri makan rakyat miskin. Siapkan BLT.
Beri kupon murah sembako kepada semua rakyat.
Perkuat KETAHANAN KESEHATAN DAN KETAHANAN PANGAN rakyat semesta.

Anak-anak belajar di rumah.
Seluruh rakyat bekerja dan beraktivitas dari rumah dan hindari semaksimal mungkin saling bertemu.

Tetapi jangan menunggu kasus sampai 1000. Indonesia tak akan mampu menangani lagi dengan strategi apapun bila angka sudah menembus 1000. Fasilitas kesehatan beserta Dokter dan Nakes akan tumbang.

Dan yang bakal terjadi adalah Seleksi alam yang sangat kejam.

Apakah hipotesis saya benar? Saya bertanya, betul-betul bertanya.

Tifauzia Tyassuma
Dokter, Penulis, Peneliti

=====

Sumber tulisan saya salin dari akun Facebook Tifauzia Tyassuma. KLIK DISINI

 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *