Momen Indah Bersua Kapten Timnas Garuda Lintas Generasi

“Football. I can’t believe it. Football bloody hell.” – Alex Ferguson

fey777.comMomen Indah Bersua Kapten Timnas Garuda Lintas Generasi – Saya tumbuh kembang sejak kecil menjadi pecinta sepakbola. Peran Bapak saya amat penting, beliau yang mengenalkan sepakbola sejak saya masih balita. Teringat saat umur 4 tahun dibawa ke stadion Siliwangi Bandung, untuk menonton langsung Persib Bandung. Disitu saya mengenal nama-nama pemain Persib seperti Yudi Guntara, Yusuf Bachtiar, Kekey Zakaria, Sutiono Lamso, Nandang Kurnaedi, dan kapten Robby Darwis yang membawa Persib menjadi kampiun Liga Perserikatan terakhir pada tahun 1994, dan jawara Liga Indonesia tahun 1995.

Sejak kecil, Bapak saya juga sering mengajak nonton sepakbola Tarkam (Turnamen Antar Kampung) di Jatinangor. Kejadian nonton Tarkam yang tak akan terlupakan ialah saat terjadi kericuhan di lapangan Gudang Tanjungsari Sumedang. Beberapa supporter membawa batu, balok, dan golok. Ah, itu lah sepakbola, hiburan rakyat yang dibumbui oleh rivalitas dan fanatisme.

Saat kecil, ingin rasanya saya bisa menjadi pemain sepakbola profesional dan masuk skuad Persib. Namun, mimpi itu gagal dikarenakan saat kelas 1 SMP, kaki saya cedera. Otot dibawah lutut sobek ketika mengikuti kegiatan Pramuka mengakibatkan 1 bulan tidak bisa berjalan normal.

Pasca kaki cedera, tidak menurutkan semangat saya untuk bermain bola. Menjadi kiper bisa meminimalisir terjadinya benturan di kaki kiri. Dan menjadi supprter adalah salah satu aktivitas di dunia sepakbola yang sangat menyenangkan.  Terlahir penuh kebahagiaan sebagai bobotoh Persib adalah wujud rasa syukur. Menyukai Manchester United, berawal karena tendangan kungfu Eric Cantona, dan makin cinta hingga sekarang.

Bagaimana dengan kecintaan terhadap Timnas Indonesia?

Prestasi Timnas memang belum menggembirakan. Ingin rasanya Timnas bisa berlaga di piala dunia, atau yang lebih rasional bisa menjuarai Piala AFF, atau bahkan menjadi juara Piala Asia. Tidak ada yang tidak mungkin.

Tahun 1993 , PSSI pernah membuat program PSSI Primavera. Program ambisius PSSI bernilai 12 Milyar hasil patungan para pengusaha maniak sepak bola. 20 pemain muda U-19 diberangkatkan ke negeri Pizza Italia. Nama-nama pemain muda yang sempat menjadi harapan Indonesia pada masa depan. Tersebutlah nama Kurniawan Dwi Julianto, Bima Sakti, Supriyono, Ismayana, dan kiper berbakat Kurnia Sandy. Sekilas, proyek ini seperti jalan pintas, tidak hanya proses instan 1 tahun untuk mencetak prestasi di kancah dunia.

Hingga saat ini, saya terus mengikuti perkembangan timnas. Tidak ada alasan untuk tidak mencintai timnas. Bagi saya, semua yang membawa nama merah putih, harus selalu didukung, termasuk sepakbola. Beberapa kali saya menyaksikan laga punggawa timnas ke GBK Jakarta. Pesona Timnas menurut saya bisa menjadi pemersatu bangsa. Lihatlah saat timnas beberapa bulan lalu berlaga di AFF 2016. Walaupun suhu politik sedang memanas, semua penduduk Indonesia satu suara mendukung Timnas Indonesia. Tidak membeda-bedakan suku, agama, daerah. Semua berada pada kubu yang sama, kubu Indonesia.

Gebrakan PSSI di Era Baru

Tinta hitam menodai sejarah sepakbola Indonesia. Mei 2015, Indonesia mendapatkan sanksi dari FIFA, otoritas tertinggi sepak bola dunia. Setahun kemudian, Mei 2016, sanksi dari FIFA untuk PSSI dicabut. Semangat untuk membangun sepakbola Indonesia ada dibawah PSSI yang dikomandoi Edy Rahmayadi.

Kongres PSSI pertama tahun 2017 digelar awal Januari di kota Bandung. Agenda-agenda penting bisa berjalan lancar pada kongres PSSI ini. Dan sebagai pecinta sepakbola, hal yang menggembirakan adalah, saya diundang pada kongres PSSI tersebut, mewakili blogger.

Silahkan dibaca, tulisan saya : Torehan Sejarah Baru Sepakbola Nasional di Kongres PSSI 2017

Momen Indah di Kongres PSSI 2017

Dari beberapa rangkaian acara kongres yang saya ikuti, ada momen yang membuat hati saya bergetar haru. Momen itu adalah saat berkumpulnya Kapten Timnas Lintas Generasi.

Sesaat setelah Kongres dibuka oleh Imam Nahrowi, ada sesuatu yang istimewa. Area luar kongres yang diberi nama “Corner PSSI”, masih ditutup tirai merah, namun awak media mengerubuti tirai tersebut, dan menanti siapakah yang akan muncul dari balik tirai. Ketika tirai dibuka oleh Menpora, Ketua Umum PSSI, dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, kemudian terlihat sebaris wajah-wajah yang sudah familiar bagi persepakbolaan nasional.

Beliau adalah 13 Kapten Timnas Indonesia. Tercatat ada 13 eks kapten Indonesia mulai dari Hery Kiswanto (1985-1987), Ricky Yakobi (1987-1990), Ferril Raymond Hattu (1991-1992), Robby Darwis (1992-1995), Sudirman (1996), Fahri Husaini (1997), Aji Santoso (1998-2000), Bima Sakti (2001), Kurniawan Dwi Yulianto (2002), Ponaryo Astaman (2004-2008), Charis Yulianto (2008-2010), Bambang Pamungkas (2010-2012), dan Firman Utina (2012-2014).  Mantan kapten Timnas Indonesia paling senior yang hadir pada saat kongres ini adalah Herry Kiswanto, beliau adalah Kapten Timnas Indonesia pada tahun 1985 hingga 1987.

Momen Indah Bersua Kapten Timnas Garuda Lintas Generasi
Momen Indah Bersua Kapten Timnas Garuda Lintas Generasi

Para pahlawan Garuda yang biasa saya lihat di televisi, bisa berkumpul dan hadir didepan mata. Ini kesempatan langka dan susah untuk diulangi. Berburu untuk foto dengan mereka adalah suatu keharusan. Kalau kata orang-orang sekarang, “NO PIC = HOAX” ..hehe

Kapten yang pertama saya harus buru untuk berfoto adalah Robby Darwis dan Firman Utina. Selain mereka berdua kapten Timnas, mereka berdua adalah kapten Persib Bandung penuh sejarah, mengangkat tropi juara Liga Indonesia. Robby Darwis mengangkat piala Liga Indonesia pertama pada tahun 1995. Sedangkan Firman Utina, adalah kapten Persib Bandung yang mengangkat Piala Liga Indonesia tahun 2014, 19 tahun adalah penantian yang lama bagi Persib Bandung dan bobotoh seperti saya.

Robby Darwis dan Firman Utina
Robby Darwis dan Firman Utina

Selanjutnya, saya meminta berfoto dengan Bambang Pamungkas, eks kapten timnas, dan juga salah satu legenda hidup Persija Jakarta, rival Persib Bandung.

Bambang Pamungkas
Bambang Pamungkas

Selanjutnya, saya mengajak foto bersama dengan Bima Sakti. Legenda eks Primavera, yang masih aktif bermain  bersama Persiba Balikpapan di Indonesia Soccer Championship A 2016 dan merangkap menjadi asisten Pelatih. Dia terkenal akan tendangan bebasnya yang keras dan akurat.

Bima Sakti
Bersama Bima Sakti

Fachry Husaini merupakan pemain sepak bola Indonesia era 1990-an. Selama kariernya, dia bermain di posisi gelandang yang mengemban tugas sebagai seorang playmaker saat masih bermain di tim nasional sepak bola Indonesia maupun di klub-klub sepak bola yang pernah dibelanya. Dia lebih dikenal identik dengan tim Pupuk Kaltim karena sembilan musim dia membela PKT (1992-2001).

Bersama Fachry Husaini
Bersama Fachry Husaini

Selanjutnya, Ponaryo Astaman, pemain kelahiran Balikpapan, Kalimantan Timur, 25 September 1979. Ia pernah memperkuat beberapa klub besar di Indonesia, dan ia juga pernah merumput di salah satu tim pada Super Liga Malaysia yaitu Malacca Telekom. 

Bersama Ponaryo Astaman
Bersama Ponaryo Astaman

Charis Yulianto, mantan kapten timnas yang juga sangat malang melintang di persepakbolaan Indonesia. Tim Arema Malang, PSM Makassar, Persija Jakarta dan Persib Bandung pernah menggunakan jasa pemain kelahiran Blitar Jawa Timur ini.

Bersama Charis Yulianto
Bersama Charis Yulianto

Firman Utina, pemain dengan tinggi 165 cm, tapi mempunyai akselerasi dan daya jelajah yang tinggi di lapangan tengah. Kariernya semakin cemerlang ketika membawa Persib Bandung menjuarai Liga Super Indonesia tahun 2014. Ia menjadi salah satu pemain Persib Bandung yang saya kagumi. 

Bersama Firman Utina
Bersama Firman Utina

Herry Kiswanto, libero legendaris yang kini berkarier sebagai pelatih. Saya pernah beberapa kali menonton langsung beliau berlaga saat memperkuat Bandung Raya dan kemudian menjuarai Liga Indonesia pada tahun 1996.

Herry Kiswanto
Bersama Herry Kiswanto

Maafkan wahai pembaca, ini adalah salah satu artikel saya yang paling narsis, hehe.

Saya sangat memuji panitia Kongres PSSI 2017 dengan mengumpulkan para legenda kapten timnas ini. Walaupun hanya sebatas ceremonial, namun ada catatan positif yang bisa diambil dengan dikumpulkannya para kapten timnas ini:

  1. Menghargai jasa para pahlawan sepakbola Indonesia.
  2. Silaturahmi dan semangat kebersamaan antara pengurus PSSI dengan para pemain yang juga mempunyai andil penting dalam persepakbolaan nasional.
  3. Temu kangen bagi para pecinta sepakbola seperti saya.
  4. Awal yang baik bagi program kerja PSSI untuk mempunyai tujuan dan visi yang sama, tanpa adanya perselisihan antar elemen sepakbola. Jangan sampai kekisruhan seperti pengurus PSSI sebelumnya terulang kembali yang membuat capek.

Pasca kongres PSSI 2017, asa, cita dan cinta saya mengenai persepakbolaan Indonesia semakin besar di era pengurusan PSSI sekarang. Mimpi saya untuk melihat sepakbola Indonesia bisa maju, profesional dan bermartabat bisa tercapai. Kelak, bendera merah putih bisa berkibar di negara tuan rumah Piala Dunia. Aamiin. – @Fey777

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *