Kertas Keramat Bobotoh Persib

GBK Jakarta Membiru Persib Juara

Mendukung Persib itu bukan karena ajakan tapi dari hati dan turun temurun” – Ayi Beutik

Menjadi bobotoh adalah hal yang membanggakan, bagi kami, mencintai Persib bukan hanya urusan nge-fans terhadap tim sepakbola semata, namun warisan budaya yang diturunkan oleh orang tua kami.

Kebahagiaan tak terkira, tatkala sekeluarga bisa menonton Persib langsung ke stadion. Atau, kebahagiaan istimewa itu muncul kala sekeluarga berkumpul didepan layar kaca mendukung Pangeran Biru berlaga. Kebiasaan yang rutin Ibu saya lakukan yaitu mempersiapkan bala-bala, pisang goreng  dan kopi atau teh tawar panas favorit keluarga. Saling berteriak saat terciptanya gol untuk Persib, atau sama-sama tertunduk lesu kala Persib menderita kekalahan.

“Budaya merupakan segala konsep hidup yang tercipta secara historis, baik yang implisit maupun yang eksplisit, irasional, rasional, yang ada di suatu waktu, sebagai acuan yang potensial untuk tingkah laku manusia”. – Kluckhohn dan Kelly

Sejak pertama kali dibawa oleh Bapak ke stadion Siliwangi kala berumur 5 tahun, Persib begitu mendarah daging pada pribadi saya. Segala usaha dilakukan untuk bisa menonton Persib langsung di stadion Siliwangi.

Teringat waktu SMA, dari satu musim liga, hanya 2 pertandingan terlewatkan nonton Persib langsung di Siliwangi. Hal yang melelahkan dan makan hati untuk jadi bobotoh saat itu. Sejak tahun 1995, penantian dan haus dahaga akan gelar juara, sangat membutuhkan kesabaran yang ekstra.

Tahun 2014 menjadi era yang bersejarah bagi Persib. Persib lolos ke final setelah menghempaskan Arema Malang di semi final Liga Super Indonesia 2014. Persib harus berhadapan dengan Persipura. Dan laga ini digelar di stadion Jakabaring Palembang.

Dengan keyakinan penuh, saat peluit panjang dari wasit tanda berakhirnya pertandingan semi final yang dimenangkan oleh Persib, saya langsung mengambil keputusan untuk berangkat mendukung Persib di final.

Perjuangan untuk berangkat sangatlah berat, pertama saya harus mengambil cuti kerja dan mencari tiket pesawat ke Palembang. Sebagian cerita keberangkatan saya ke Palembang, bisa dibaca disini.

Sampai stadion Jakabaring pada babak kedua tak menyurutkan semangat saya. Skor 2-2 di dua babak normal, adu penalti yang menegangkan, dan berakhir dengan kampiun ISL 2014. Penantian yang lama, bak menanti jodoh masa depan yang tak kunjung datang. #ehh #kemudianBaper

Terhentinya liga di tahun 2015, menelurkan Piala Presiden 2015. Turnamen yang katanya digelar karena obsesi pemerintah yang urusan sepakbolanya sedang bermasalah. Mahaka Sport menjadi pihak penyelenggara Piala Presiden 2015. 

Persib sebagai tim sepakbola dengan bobotoh yang fanatik, pastinya ikut andil dalam turnamen ini. Bobotoh jadi target market yang tepat bagi penyelenggara dan embel-embel sponsor di belakangnya.

Babak penyisihan digelar di Bandung, bobotoh bersuka cita, kemenangan demi kemenangan diraih dengan sempurna. Laga delapan besar dan semi final yang dihelat dengan format home away mencuatkan permasalahan calo tiket yang dikeluhkan bobotoh. Dan akhirnya Persib lolos ke babak final Piala Presiden 2015 setelah menyingkirkan Mitra Kukar.

Pengumuman tempat laga final, menjadi perhatian bobotoh dan pecinta sepakbola di Indonesia. Dan akhirnya, Mahaka Sport mengumumkan bahwa final di gelar di Stadion GBK Jakarta. Ini keputusan yang mengejutkan, karena situasi bobotoh yang kurang bersahabat dengan Jakmania.

“Kapolri sudah menjamin. Yang pasti, kami harus percaya kepadanya (soal pengamanan). Sampai bertemu di final,” ujar Cahyadi (Vice President Mahaka Sports) kepada awak media. (12/10/2015).

Ya, mari kita birukan GBK. Bobotoh sangat bersemangat, termasuk saya. Saya harus menjadi saksi Persib juara kembali. Perjuangan yang tinggi untuk berangkat ke Jakarta. Yang terutama adalah restu dari orang tua.

Ketika saya menelepon Mamah saya untuk meminta ijin berangkat, awalnya beliau keberatan, namun, akhirnya Mamah mengiyakan, tentunya dengan iringan doa.

Sok didoakeun ku Mamah sing salamet di jalan, Persib-na oge sing Juara“. (Mamah doakan semoga selamat dijalan, dan Persib juga Juara).

Tak hanya doa, Mamah bahkan berkeinginan untuk mengantar dan melepas rombongan bobotoh yang berangkat dari Jatinangor. Sungguh haru, udah kaya pemberangkatan umroh dan haji aja. Atau pemberangkatan orang yang mau perang. hehe…

Setiap bobotoh yang berangkat mengenakan pita merah (tanda khusus dari Polda Jabar). Rombongan kami, lebih dahulu tiba di GBK. Tak mengalami masalah berarti di jalan hingga tiba di ibukota.

GBK Jakarta Membiru Persib Juara
GBK Jakarta Membiru

 

Datang dan Menang - Persib Juara
Datang dan Menang – Persib Juara

GBK membiru akhirnya terbukti. Pertandingan Final yang tidak terlalu menegangkan (mengalahkan tegangnya pemberangakatan dan kepulangan), dimenangi Maung Bandung dengan skor 2-0 atas Sriwijaya FC. Malam yang indah kala itu di GBK. Saya kembali menjadi saksi Persib Juara kembali. 

Adalah 2 potongan tiket Final yang menjadi kertas sakral bagi saya sebagai bobotoh. Dan berharap menambah kertas-kertas keramat juara lainnya.

Tiket Final Persib Juara
Tiket Final Persib Juara

“Hatur nuhun Ya Allah, saya terlahir sebagai Bobotoh”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *