Ketika Mang Ayi Beutik Reinkarnasi di Jakabaring

Ketika Mang Ayi Beutik Reinkarnasi di Jakabaring
Ketika Mang Ayi Beutik Reinkarnasi di Jakabaring
Ketika Mang Ayi Beutik Reinkarnasi di Jakabaring

fey777.com – Ribuan cerita dari bobotoh yang berangkat ke Jakabaring tak akan habis diceritakan kepada teman, saudara dan handai taulan. Setiap detik momen spesial mulai berangkat hingga kepulangan dari tanah Sriwijaya dengan semangat dibagikan kepada bobotoh lainnya yang tidak beruntung untuk berangkat ke Palembang.

Bagaimana perjuangan bobotoh untuk berangkat ke Palembang?Pasca peluit panjang laga semifinal Maung Bandung mempecundangi Singo Edan (4/11), yang terbersit langsung di pikiran dari para bobotoh adalah, “Aing kudu ka Palembang, nonton Final bersejarah”.

Berbagai caradilakukan bobotoh untuk merealisasikan tekad berangkat menjemput kerinduan akan juara. Bagaimana kita lihat di linimasa twitter, tagar #ModalFinal menjadi perhatian media nasional. Tidak hanya urusan modal uang, modal perijinan kerja, perjuangan waktu, bahkan kerja keras mendapatkan ijin dari istri dan anak bagi yang berkeluarga.Jika dipikir, tidak realistis memang kelakuan para bobotoh dalam mencintai Persib.

Kelakuan “ekstrim” para bobotoh seakan ingin mengamini ucapan almarhumKang Ayi Beutik, “Jika menghitung untung dan rugi, dukungan kita tak akan murni lagi”.

Tidak hanya kelar urusan uang, waktu, dan perijinan.Masalah kembali datang. Mau menggunakan transportasi apa ke Palembang?. Kamis pagi (6/11), panitia rombongan Viking dengan jalur darat menggunakan bis kewalahan untuk menghadapi antusiasme bobotoh yang ingin berangkat. Bukan susah tidak ada uang, tapi susah mencari bis. Total 120 bis rombongan berangkat. Silahkan dihitung berapa jumlah bobotoh yang berangkat, belum gelombang pertama bobotoh yang berangkat semifinal, yang menggunakan kendaraan pribadi, dan jugayang menggunakan jalur udara.Berburu tiket pesawat pada hari Kamis, (6/11) susahnya kaya nyari jodoh.Situs maskapai penerbangan ke Palembang diserbu bobotoh.

Hasil dari perburuan tiket membuat was-was, karena saya terpaksa mendapat tiket dengan jadwal terbang hari Jumat jam 16.35. Sehari sebelumya, jadwal kick off diumumkan 18.30.“Urang ngadoa tong sampe delay, bisa teu nonton lamun delay”, ujar Hilmi, teman saya yang berangkat bareng.

Dan akhirnya? Delay terjadi, bisa di cek di akun @omeshomesh, salah satu selebritis Bandung bobotoh Persib yang saat itu menggunakan T-Shirt bertuliskan ”Maung Bandung” pada bagian depan, dan tulisan “Tribute to Ayi Beutik” pada belakang T-Shirt. Tak ayal, Omesh menjadi pusat perhatian para bobotoh dan penumpang lain di bandara.

Terlalu panjang saya ceritakan disini tentang kejadian-kejadian seru di bandara.Cerita Juragan genteng asal Purwakarta yang mentraktir makan para bobotoh yang baru kenal di bandara, serta bagaimana drama bobotoh berkolaborasi dengan Persipuramania protes kepada customer service maskapai yang kami gunakan karena pesawat delay 1 jam.

Tepat pukul 18.30, pesawat mendarat di Palembang.Kami berlari menuju keluar bandara.Kami dapati melalui tayangan televisi di bandara, pertandingan sudah dimulai.Kepanikan terjadi, mencari akal, agar cepat tiba di stadion Jakabaring.Beruntung, saya punya teman dari satu komunitas United Indonesia chapter Palembang, dijemput menggunakan sepeda motor dari bandara ke Jakabaring, sedangkan yang lainnya berangkat dengan menggunakan mobil sewaan.

Sampai di parkiran Jakabaring, terdengar gemuruh dari arah stadion, “Goal…!!!”. Persib menyamakan kedudukan 1-1. Bergegas menuju pintu masuk, dan antrian terjadi.Sekitar 10 orang yang sudah mempunyai tiket tidak diperbolehkan masuk.Alasannya tribun sudah penuh, padahal kami sudah memegang tiket. Kami pun memelas protes, “Pak saya jauh-jauh datang dari Bandung, masa tidak boleh masuk, kan sudah punya tiket”. Tidak ada alasan lagi petugas tersebut untuk menghalangi kami menyaksikan langsung Persib berlaga.

Saya menaiki tangga stadion tepat pada fase istirahat.Menginjakkan kaki di tribun Timurstadion Jakabaring yang mempunyai pencahayaan yang bagus, aura menakjubkanlangsung terasa.Saya pandangi sekitar, ini seperti di Jalak Harupat.Kursi tribun timur terisi penuh oleh pendukung Pangeran Biru.“Ieu lain di Soreang, lain di Garut, ieu di Palembang”, begitu ucapsalah satu bobotoh didepan saya di sela-sela rehat babak pertama.Obrolan dan banyolan khas Sunda sangat renyah terasa di bangku penonton.Saling menawarkan makanan dan minuman kepada sekitar yang dianggap dulur.

“Di Jakabaring euweuh tukang asongan euy, euweuh tukang tahu”, celetuk salah seorang bobotoh yang buligir.

Babak kedua dimulai, menit ke-53 Firman berhasil memberikan umpan terobosan ke jantung pertahanan Mutiara Hitam.Umpan cerdik dan cantik tersebut berhasil dikonversi Ridwanmenjadi gol, yang membuat Persib unggul menjadi 2-1. Gol Haji Ridwan seperti membakar bobotoh yang berada di stadion.

Upaya Persipura yang ingin mengejar ketinggalan akhirnya terjadi.Menit 79, Boaz menceploskan bola ke gawang Persib. Skor 2-2 membuat seluruh bobotoh sejenak terdiam.Tegang dan pikiran tentang kejadian anti klimaks kalahnya Persib pasti terlintas di pikiran para bobotoh.Kita pahami, para pemain Persib pasti sangat kelelahan setelah berlaga di semi final.Namun, kita semua sepakat dengan keyakinan, pasti juara.

Ucapan Kelik saat bertemu di bandara membekas, “Kita datang ke Palembang untuk kemenangan”.

Persipura seperti ingin mengajak perpanjangan waktu dan tos-tosan adu penalti.Hingga tiba waktunya, wasit meniup peluit panjang tanda berakhir 2 babak laga normal.Bobotoh kembali mengambil nafas panjang. Saat rehat menuju ekstra time, banyak bobotoh di tribun timur yang duduk untuk melepas ketegangan, ada pula yang komat-kamit berdoa pada yang Maha Kuasa. Sekitar 2 menit hening, tidak ada teriakan dan nyanyian.

Ketika keheningan terjadi di istirahat menuju babak perpanjangan waktu, terdengar anak kecil yang nge-chants (bernyanyi menyemangati) seorang diri ditempat khusus yang biasa ditempati oleh dirigen mang Yana Bool.Karena suasana hening, suara bocah itu terdengar jelas dari ujung selatan hingga ujung utara tribun timur Jakabaring.Dengan megaphone di tangan, dia berdiri dan mengangkat tangan menghadap ke tribun bobotoh. Dialah Jayalah Persibku.Anak sulung dari panglima Viking, almarhum Suparman alias Ayi Beutik.

“Ayolah persibku, marilah Persibku, bersenanglah kau Persib, bermainlah kau persibku!,,,oooooooooooooooooo ooooooo”.

Mayoritas bobotoh di tribun timur terdiam memusatkan perhatian kepada Jaya, panggilan akrabnya.Mendengarkan Jaya bernyanyi.Lagu“Si Bolang Bocah Petualang” yang digubah liriknya.Setelah dua kali putaran mendengar nada dan liriknya.Beberapa bobotoh mulai mengikuti Jaya untuk bernyanyi.Tepuk tangan riuh dari setiap sudut tribun timur.Sungguh pemandangan yang indah dan mengharukan. Bagaimana anak 10 tahun mengajak ribuan bobotoh untuk terus menyemangati Persib yang akan bertarung di babak perpanjangan waktu.

Saat itu, Jaya melakukan apa yang biasa dilakukan ayahnya. Bahkan sekilas, semangat mang Ayi hadir pada raga Jayalah Persibku.Kalau saja mang Ayi masih ada, mungkin mang Ayi bisa tersenyum bangga melihat aksi anaknya.

Diri mang Ayi seperti “reinkarnasi” pada diri Jaya malam itu di Jakabaring.Dilansir dari wikipedia, Reinkarnasi (dari bahasa Latin untuk “lahir kembali” atau “kelahiran semula”, merujuk kepada kepercayaan bahwa seseorang itu akan mati dan dilahirkan kembali dalam bentuk kehidupan lain. Yang dilahirkan itu bukanlah wujud fisik sebagaimana keberadaan kita saat ini.Yang lahir kembali itu adalah jiwa orang tersebut yang kemudian mengambil wujud tertentu sesuai dengan hasil perbuatannya terdahulu.

Nyanyian semangat Jaya menjadi vitamin bagi bobotoh untuk terus tanpa lelah menyemangati para punggawa Maung Bandung.2 babak perpanjangan waktu didominasi Persib, namun hasil tidak berubah dan harus dilanjutkan dengan adu penalti.

Drama adu penalti jadi momen yang paling menegangkan.Kalau saja ada elektrokardiograf (alat deteksi jantung) pada saat itu, dan semua bobotoh di cek, pasti garis yang keluar di monitor tidak beraturan, bahkan bisa saja flat line, yang berarti terjadi cardiac arrest (jantung terhenti).

Dan akhirnya, setelah Nelson Alom gagal mengeksekusi penalti, dan Ahmad Jufriyanto mengeksekusi dengan sempurna, Persib memastikan gelar Juara.Kerinduan 19 tahun terobati.Luapan ekspresi para bobotoh di Jakabaring sangat beragam dan tidak tergambarkan.

Saya langsung teringat mang Ayi, gelar Persib Juara ini untuk Mang Ayi.Semoga semangat mang Ayi semasa hidup bisa menular ke bobotoh lainnya, tentang totalitas dan konsisten dalam mendukung Persib Bandung dengan segala perjuangannya.

Jayalah Persibku melalui akun twitternya @jayalahpersibk1 berkicau pada 12 November 2014.“HARI AYAH GAPU NYA AYAH! 🙂
Tetap semangat jaya! Saya yakin, ribuan bobotoh menyayangi Jaya.Tunjukkan Jaya bisa membanggakan kedua orang tua.Saya memang belum kenal dengan Jaya, namun dia adalah adik bagi saya dan bobotoh lainnya.

Bagi muslim yang membaca tulisan ini, silahkan membaca Al-Fatihah untuk Suparman bin Ohim alias Ayi Beutik. Semoga diberikan cahaya yang terang di alam kubur, dan keluarga yang ditinggalkan selalu ada dalam lindungan Allah swt.Aamiin.

#PersibJuara – Penulis adalah bobotoh dengan akun twitter @Fey777

Foto diambil dari akun twitter @omeshomesh, sekaligus sebagai pemilik hak cipta foto.

Dimuat juga di Simamaung.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *